Minggu, 24 Mei 2015

OLA Trip of Wonderful ep. Papandayan Part 2



Melanjutkan perjalanan dan ternyata ada warung di atas ini bah!, dan....apa? Ada tukang cilok pulak!. Baru kali ini gw hiking nemu tukang Cilok. Bwahahaha…Akhirnya gw tergoda untuk melipir sejenak di warung untuk pesan teh panas. Teh panas di udara dingin = mantap, cocok sangat. Seperti kita menemukan pasangan hidup kali yaa…Bwahahahha. Dan sebenarnya gw tergoda buat beli cilok, asap yang keluar dari pancinya cilok aja udah ngegodain gw, buat nyamperin. Tapi maaf, cilok. Godaan kau belum bisa menumbuhkan semangatku untuk menghampirimu. Laaaahh males juga gw nyamperin, yang beli sampai ngantri gitu.


Setelah menghangatkan tubuh dengan minum teh di warung, lanjuuutt lah kami. Jalan masih menanjak, kali ini jalan di sebelah kiri dipagari jurang dan kanan oleh pepohonan rimbun. Masih rame aja disini. Dan akhirnya tibalah kami di Pondoh saladah. Ahaiiiii…sampai di tempat ngecamp. Aseeek-asekkk yeaaayyy. Dan just for your info, di Pondoh Saladah kala itu rame banget dihiasi warna-warni tenda. 


Luruskan kaki, dan mari kita kerja lagiii, siapkan makanan untuk siang ini. Siangin sayuran!, dan yang cowo-cowo bangun tenda. Sayuran bahkan daging yang dibawa ternyata : banyaakkk kaliiii..Menu siang ini mari kita buat sayur sop plus daging ayam, tambahan telur dadar (tapi sayang gw gak bisa makan telur dadarnya, padahal aromanya menggoda banget untuk dilahap). Sore hari menjelang akhirnya tuh sayur sama nasi baru matang,..karena cukup lama menunggu, akhirnya kita lahaaap habis. (Yang gw suka banget di sayur sopnya ada jamur kupingnya, yummy)


Setelah perut cukup asupan, saatnya istirahat dengan ngobrol-ngobrol cantik, Oiya klu kita hiking ke gunung kan sering banget tuh nemuin, orang-orang yang teriak trus saut-sautan. Salah satu rombongan teriak, rombongan yang lain nyautin. Klu kata Gigih, ku saut-sautan gitu, yang pertama teriak itu dia dapet jackpot, abis liat orang pipis atau pup di semak-semak. Nah pas denger orang saut-sautan lagi, kita langsung ketawa ngakak, ngebayangin lagi pipis atau pup ketauan sama orang, Oh I’m Shy.   Malam mulai menjelang kita berakustik ria, bernyanyi, berjoged bersama.




Ketika malam gelap dihiasi berjuta bintang

Lelah yang melanda diluluhkan oleh tawa

Dinginnya udara dihangatkan dengan kebersamaan

Kenangan indah bersama teman-teman

Kehidupan yang akan selalu kami syukuri

Kebersamaan yang kami rindukan.



Rasanya semua menyatu, bahkan tim pendaki yang lainpun ikut bernyanyi bersama, berjoged bersama. Semua senter dinyalakan dan kami sorot ke langit, rameeeee  udeh kaya lagi hajatan ajeh dah. Kita gokil-gokilan bersama di dinginnya malam. Ahaiideee


Ketika perut sudah menggelinjangg, mengetuk-ngetuk lambung, biar diisi. Kami berkumpul bersama, makan lesehann, menunya ayam rica-rica dan capcai. Sayangnya pada menu makan malam kali ini gw Cuma bisa makan nasi beberapa suap saja. Sumpaah deh gw gak tahan sama pedesanya…Hiks..hiks

Udah gitu pengen pipis pula, malam-malam gw dan Ambar minta Krisna nemenin kita ke toilet. Dan toilet nguanntriii, masih aje, padahal udah hampir jam 9 antrian toilet belum berakhir. Akhirnya gw pipis di semak-semak. Terpaksalah. Tepat beberapa meter di bawah, rombongan cowo-cowo dari pendaki lain, abis liat babi hutan dekat mereka. Dan mari kita cussss ke tenda.

Udara semakin menggigit kulit, merasuk ke tubuh, saatnya gw bersembunyi ked lam sleeping bag di dalam tenda. Gw berusaha untuk tidur, namunn suliiittt…dinginnnn bangeeettt. Tapi serius deh karena gw pernah mengalami Hipotermia di Gunung, gw berusaha dan terus berdoa gw harus lalui malam ini, gw gak mau hipotermia lagi.


Pukul 04.00 WIB. 
Semua dibangunkan, sebenernya udah pada bangun (gak tau pada gak bisa tidur apa memang sudah bangun), Namun tak ada yang mau keluar dari tenda, hahahha. Masih takut. Dingin kalii bahh! Namun tak kusangka yang namanya Krisna bisa mandi pagi tuh bocah, entah badannya sekuat apa. Akhirnya karena ingin melihat indahnya sunrise kami menguatkan, menyemangati diri bangoooooon.
 

Dan ternyata jalan menuju hutan mati, maceettt kalii. Karena kami kesiangan bangun, Ups! bukan malas keluar tenda. Tapi sempat lah sikit kami berfoto bersama kawan disinari indahnya Mentari pagi. 


Sang Fajar menyeruak di balik Hutan Mati



Setelah merasakan indahnya pemandangan sekitar kami bergegas ke puncak. Perjalanannya menanjak terjal, untunglah tak membawa carier nan berat. Kami harus melalui tanjakan Mamang, gw sendiri gak tau kenapa dinamakan tanjakan mamang. Gw sih berasumsi sendiri, untuk melewatinya kita butuh mamang, buat membantu naik, “Mang, tolong dong mang”. Pemandangan semakin indah, kami terus mendaki, memompa semangat diri, ingin melihat kuasa Tuhan Yang Maha Sempurna. Jujur nafas sedikit lebih tercekat, mungkin karena oksigen semakin menipis. Namun ketika lellah semakin bertumpuk, secercah sinar harapan memcuat di balik pepohonan, rasanya lelah itu sirna. Semangat semakin membara. Dan Tibalah kamiiii….fiiiuuuuuhhh Alhamdulilllaaah. Mari kita fotooooo.

Dari kiri ke kanan, Gw, Cilla, Anjar, Wijaya

Embun Pagi menghiasi
 



Oia, di puncak ini tidak ada pendaki yang ngecamp, memang diharamkan, alias dilarang. Karena masih banyak binatang buas di sini.


Oh Iya ada kejadian lucu, jadi ada yg namanya Ibnu, badannya tuh besar, kulitnya gelap. Entah ini nyata atau hanya gossip yang dbuat-buat sama Giant. Pas malam-malam Ibnu pengen pup di semak-semak, Ibnu diteriakin Babi!. Babi!Babi!Babi!, otomatis orang-orang rame-rame ngusir tu babi dong, biar gak ngamuk ke tenda kita. Nah pas di teriakin dan diusir-usir gitu bukannya teriak “Ini gw Ibnu”, Eh Ibnu malah kabur, ditimpukin lah dia, sampai bokongnya merah-merah. Bwahahahhaha..Ehtah ini bualan Giant atau ini sugguhan. Sampai hari tulisan ini di posting, Ibnu masih jadi bahan cengan. Tapi klu ada babi, sungguhan ada.

Oiya,..saat gw tulis cerita ini Didit (salah satu team yang ikut juga mendokumentasikan perjalanan ini), sudah mengeluarkan teaser nya loh di you tube. Check this out yooo. 

Watch "OTW : OLA Trip of Wonderful | TEASER" on YouTube - OTW : OLA Trip of Wonderful | TEASER: https://youtu.be/IbwDIGam2EE

Rabu, 20 Mei 2015

OLA Trip of Wonderful ep. n. Papandayan

Udah lama gw gak cerita pengalaman menarik, mengesankan bagi gw. And know I want to tell you my story…upss no OUR Story.


Cerita perjalanan kami ke Papandayan, Garut – Jawa Barat. Kali ini tidak bersama full anggota koplak. Hanya beberapa dari kami yang bisa ikut.

Perjalanan dimulai pada Jum’at malam tanggal 15 Mei 2015. Kita kumpul di Auditorium UMB. Kami meluncur dari Meruya pukul 10 malam (sepertinya). Sumpritt selama perjalanan full music banget, pada suka menyani ternyata, untuk enak didengar, hahahha. Supirnya juga asik mengendarai busnya, cepett beeud. Dan Alhamdulillah, kami sampai dengan selamat.


Singkatnya kami sampai, dan melanjutkan perjalanan dengan mobil bak terbuka menuju pintu masuk Gn. Papandayan. Sengaja gw pilih duduk di depan, sebelah supir. Gw ngerii masuk angin. Bwahahah. (Secara badan gw tipiss bingittss). Gw jadi ngobrol-ngobrol cantik sama drivernya deh, dari masalah politik sampai rendahnya harga jual hasil panen di tengkulak. Dia sempet curhat, hasil panennya (dia juga punya kebun sayur), sekarang rendah sekali harga jualnya. Dia jual cabai merah ke tengkulak cuma dapet 10rb, gw miris banget dengernya, secara gw beli cabe merah segenggam 4rb. Gw menyemangati  dia, “Semangat Pa, sekarang orang semakin sadar kok buat makan sayur, jangan patah semangat Pa, terus tanam sayur-sayuran”. Pa supir cuma nyengir aja, gw bilang gitu. 


Barusan intermezzo sedikit, hihihi.

Pas sampai di sana, beuuhhh banyakk beudd ternyata yang pengen mendaki. Saat mulai pendakian gw rasa ini gunung kok gersang beud yak. Sepanjang jalan batu kerikil, kawah, batu besar, tebing,…lah dimana puunya?...


Tampak jalan disisi kiri (jika posisi akan mendaki)



 Asap belerang berada di sisi sebelah kiri (ketika hendak mendaki)
 


Banyak beuuudd batunya, bagi pencita batu akik, betah kali yaak, ngubek-ngubek nyari batu akik di sana. Bwahahah. FYI, air sungainya telah bercampur dengan belerang...


Seperti yang gw bilang tadi karena yang pengen mendaki banyakk bangeettt, gw merasa berjalan pun gw kudu ngantri. Gw dulu pernah diceritain sama temen dia pernah mendaki sebuah gunung sampai jalan itu harus ngantri, saat itu sih gw gak percaya, lebaayyy beud dia. Ternyata gw mengalaminya sendiri. Gw kira di atas ada konser apa gitu..

Setelah beberapa waktu perjalanan akhirnya nemu pohon, yeaayyy. Lebih sejuk, anginnya lebih semilir anginnya. Kena semilir angina di gunung itu rasanya menghilangkan separuh lelah. 


 Me (back) with salah seorang anggota tim Koplak, namanya Bang Jay

Dan akhirnya berhentilah kami dipersimpangan jalan, satu ke kiri dan pilihan lainnya ke kanan. Menurut info sih, ke kiri itu lebih landai namun agak jauh jalannya, nah yang kiri lebih terjal tapi lebih cepat. Tergodalah gw dan beberapa di antara kami pilih jalan cepat, Bwahahahh. Gak bisa dikasih kabar gembira dikit, klu jalan lebih dekat..langsungg cuss. Dan ternyata sodara-sodara jalan ke kanan ini sungguh terjal sangat (bayangkan tuh gw sengaja pake kata “sungguh” dan “sangat”). Baru bebrapa kali kaki menanjak, rasanyaa cakeepp kaleee. Akar pohon dan ranting pohon jadi tumpuan kami. Namun saat sejenak istirahat, dan liat ke bawah itu rasanya…hmhmmmm…Subhanallah. Indah sekali.

Setelah perjuangan yang W.O.W = wow.  Finally nemu jalan yang rata (maksudnya rata, bukan jalan aspal atau jalan beton loh ya!) Sebelah kiri dibatasi dinding batu nan terjal, dan sebelah kanan = jurang. Puas-puasin lah ditempat ini kami meluruskan kaki. Menikmati, semilir angin menyapu wajah, menyegarkan tubuh. Wuiiihhh. Ketika naik gununglah, kita menyadari bahwa angin adalah anugrah Allah yang harus kita syukuri.


Setelah perjalanan dihiasi bebatuan, hadirlah pepohonan


Setelah marasa cukup kami mulai berjalan lagi. Ketika melihat ke kanan. Woooow keren bangett. Jurang, dihiasi pohon nan rindang. Berbagai warna hijau menghiasi. Gugusan bukit-bukit mengelilinginya. Dan kemudian…..selfie…mari kita selfie





Rabu, 04 Desember 2013

Manusia Setengah Koplak

Kalau Raditya Dika punya buku berjudul Manusia Setengah Salmon, maka gw dan temen-temen gw punya grup yang diberi nama Manusia Setengah Koplak.

Yup!!, orang yang terdaftar dalam grup itu, rata-rata punya kelainan, tingkat kewarasan otaknya rada geser. Sableng (gak termasuk gw yaa,..Insya Allah gw gak termasuk).

Grup itu berisi temen satu angkatan  (eh enggak juga sih ada bocah nyasar yang pengen ngikut-ngikut pengen ikutan gila, yaah akhirnya dengan sangat terpaksa di invite, itu juga dia yang minta, bwahahahah), satu jurusan, satu kampus. Di Grup itu semua hal diomongin dari gak penting sampai urusan negara kita bahas.

Sebagai contoh percakapan, yg ngebahas tentang rencana liburan, check this out  yoo

NN       : Zl, kita jadi gak neeh ke Bandung?
ZL        :  Auuu, deh...
                gw belom bilang sama akang
                Kang..haloo Kang
WDN   : Apaah dah Zllll
ZL        : Tmn2 pgn ke Bandung silaturahmi ke Odoy sekalian jalan2 ke Bdg
               Pake mobil lo bisa gak Kang..tol bensin kami2 yg patungan

disini yang dicariin orgnya kaga nongol2 seharian, mungkin paketnya lagi abiss kalii yee

WDN   : Kapan nih..??, Abis UAS aja yah, Gmn?...
FJR      : Jgn habis UAS WDN, klu pas liburan ujian akhir semester aja gimana...?
FZ        : Gak sekalian libur catur wulan?
FJR      : wah kelamaan FZ, gw khwatir si Wulan dah gak sempet lagi main catur....
NN      : Koplaakk

begitulah cerita singkatnya, klu gw panjangin takut jadi kisah sinetron. Nama gw samarkan yaakk, takutnya ntar mereka jadi eksis lagi klu gw tulis namanya. (bwhahahahh). Tulisan di atas gw sesuaikan dengan ketikan org saat di HP, rada di singkat2 gethoo. Tapi masih paham kannn..

Yah bigitulah. Orang-orang sableng yang selalu gw kangenin, untungnya domisili gw sama bocah-bocah koplak ini gak sama, klu sama, bisa-bisa sering ketemuan dan gw bisa-bisa jadi koplak kaya mereka. Walau mereka sableng, gw sayang mereka. I love u all, guys...

Rabu, 27 November 2013

Pari Island Part 2

Ketika tengah malam, gw terbangun. Ternyata di sebelah gw telah ada 2 sosok mahluk peremuan. Hoaaammm. "Da, bangun. Kamu liat tuh Ka Ferin. Ka Ferin itu temen kamu, aku ini temen kamu, kita ini sama-sama bayar Da, kita punya hak dan kewajiban masing-masing." klu gak salah sih itu percakapan yang gw dengar. Secara tengah malem bangun. Antara waras sama enggaklah pendengaran gw.

Keesokan paginya. ketika gw bangun, ternyata sudah ada Anda dan Tata, disebelah gw. (Sebut saja namanya Anda dan Tata, untuk melindungi keduanya nama asli gw samarkan, hahahaha). Dan sadarlah gw yang semalem berantem ternyata mereka berdua. Gw langsung tanya kenapa mereka berdua berantem. Ternyata Tata kasian liat gw terdhzolimi da hampir jatuh dari Kasur, sementara Anda tidur dengan leganya (baca : MAKAN TEMPAT). Yaammpun, Tata you're so sweet. Love u. (Padahal gw tau, dia juga merasa terdhzolimi, bwahahaa). Anda, sempet nanya sama gw, kenapa gw gak misahin mereka. Yaah gw jawab aja,.."Maklumlah secara itu tengah malem, dan ternyata mata gw masih gak rela banget buat melek, gw tidur aja lagi." tapi gw tau koq gak sampe 15menit juga bakal akur lagi.Itulah kisah tengah malam.

Keesokan paginya, kami bersepeda lagi, berjalan-jalan dan bermain. Lumayan udah lama gak ngerasain main basket. Seruuuuu, even cuma passing-passing doank. Lumayan buat tangan sampe merah-merah.

Sebelum pulang, kami mampir dulu untuk makan bakso. karena cacing perut gw masih kelaperan yaa, gw suguhin lah otak-otak ikan Tenggiri. Jujur klu gak di daerah sekitaran laut, atau daerah penghasil ikan, gw suka mikir beli otak-otak ikan. Hahahah, efek kebanyakan nonton investigasi.

Jam 12. Kami sudah berada di kapal. teman-teman gw yang lain milih untuk menempati posisi seperti kemarin, di luar. Waahh, gw udah angkat tangan aja. Maklumlah gw takut dicariin sama sinar Matahari, klu dia udah pamer sinarnya, gw suka keliyengan (baca : pusing). Gw langsung memilih turun ke lantai satu, dan tiduuuuurr.

Tiba-tiba gw terbangun lagi, gw tengok ke luar jendela masih ada air laut. Dan tak lama sejak gw duduk dan terbangun, hujan turun, fiuuhh, gw otomatis gak bisa lanjutin tidur. Tapi untungnya gw sudah terbangun duluan, Ajegilee mantep aje klu yang bangunin gw air hujan cuyy. Hujan cukup lebat, untunglah ombaknya cuma 1 meter. namun ketika gw BBM-an sama temen gw yang saat itu ke pulau Tidung, dan kapalnya beda, ternyata kapalnya sempat oleng 2X, huaww. ngeriiii.

Akhirnya, tibalah kapal yang kami tumpangi di Muara Angke. ketika bersiap untuk menuju daratan, ini menjadi hal menarik. Sama halnya ketika menuju kapal, saat keberangkatan, turun dari kapalpun, kita harus melalui beberapa kapal hingga akhirnya sampai kedaratan. Ditambah suasana habis hujan, yang membuat kapal menjadi basah dan sedikit licin, so kita harus hati-hati. Dan karena habis hujan, alhasil Muara Angke jalanannya sedikit tergenang, indahhh banggeeett, aroma sedap menusuk hidung dan air tergenang. Cakep!.

Tapi dari perjalanan ini, gw senengggg, karena gw merasakan kebersamaan. Merekatkan. Lem kaliii. Pokoknya gw senangg. Terima kasih Allah.  


Senin, 25 November 2013

Pari Island part 1

Ini cerita tentang perjalanan gw ke pulau Pari, Kepulauan Seribu bersama teman-teman.

Jam 6 meleset sedikit, gw dan teman-teman sudah sampai di Muara Angke, aroma khas Muara Angke telah menyapa kami pagi itu. Di sana kami sudah dijemput seseorang yang akan menjadi guide kami di Pulau Pari. Perjalanan menuju kapal yang akan kami tumpangi, ternyata menjadi sebuh cerita menarik. kami harus melompati beberapa kapal, saat itu empat kapal dari dermaga. Hingga sampailah pada kapal tujuan. 

Yang sangat disayangkan, akses menuju kapal itu sangat mengerikan, tidak ada jembatan untuk menuju kapal, dan yang ada adalah kawat-kawat yang menganga ke atas, so kalau kita meleng sedikit aja, wassalam deh kaki. 

30 menit perjalanan gw akhirnya memilih untuk masuk ke dalam kapal, panas bo' cuaca di depan, secara gw kalah banget kalo disuruh ngadu sama sinar Matahari yang mentereng itu, langsung down gw, sementara temen-temen gw masih anteng berjemur di luar kapal. Ternyata tepat gw memilih masuk ke dalam kapal, adeeeemm, sampai gw bisa tidur.

Singkat cerita setelah menempuh 2 jam perjalanan dari Muara Angke sampailah kami di Pulau Pari. Cuaca masih panassss, untunglah sampai di home stay langsung ada welcome drink, terbayarkan lah kepala gw yang pusyiangg karena kepanasan tadi. Es Kelapa Muda yang hmmm, yummy gw lahap abis, untunglah gw gak khilaf untuk makan batoknya juga.

Setelah bersantai sebentar, kami langsung bersepeda menuju Virgin Beach, kerenlah pantainya, tidak begitu ramai. Sayangnya saat itu gw lagi gak mood banget buat ngebasahin baju, secara gw pake blouse. Ribet. Jadi gw asik aja foto-foto. Sementara teman-teman gw yang lain tak dapat menahan godaan untuk nyemplung ke air. Setelah puas di Virgin beach, kami kembali ke home stay, mandi dan langsung ganti baju. Setelah para cewe-cewe itu selesai touch up, menujulah kami ke LIPI yang ada di Pulau Pari ini untuk melihat sunset. sayangnya pantai dibelakang LIPI ini sedang surut, dan ternyata banyak banget sampah di sana, sangat disayangkan. dan karena langit sedang berawan maka hilaglah kesempatan kami untuk melihat sunset. But it's ok.

Azan Magrip pun berkumandang, kami pun bergegas pulang. Setelah sholat Magrip. gw dan teman-teman bersantai, hujan turun saat itu. Pas bangetlah, bersantai di kasur sambil bercengkrama, nonton tv, dan ngemil, kita pun akhirnya tewas sebelum jarum jam menunjukkan pukul 9 malam. (Itu menurut info dari temen gw yang masih melek sendirian, secara gw molor paling duluan, hahahahh). Alhasil rencana barbeque malam itu gagal total.

Ok sampai sini dulu yaa,...
  

Selasa, 29 Oktober 2013

Ketika aku salah jurusan

Gw mungkin diberikan daya pengingat jalur yang sangat rendah, untuk itulah gw sering banget nyasar. Selain faktor tadi juga, gw tuh orang yang rada sotoy kali yee, alias sok tahu, takut buat nanya. Entah kenapa gw takut buat nanya, pokoknya klu mo nanya jalan tuh kesannya ada seribu gejolak di hati gw yang muncul, ok, ini lebay. Sehingga gw punya banyak memory nyasar, karena alasan-alasan tadi.

Ketika aku salah jurusan,..

Saat itu gw buru-buru pulang kantor dan gw udah deg-degan takut telat masuk kuliah. Karena sudah paniknya, gw berinisiatif naik bus apa saja (saking lamanya nunggu bus yang biasa gw naikin gak nongol-nongol, heran tuh bus gak kangen ape sama gw), biar nanti nyambung naik bus yang lain. Alhasil sebuah bus lewat di depan gw, gw pun naik. Gw kira tuh bus jurusannya Jati Bening, karena kata setelah Jati itu kurang jelas, gw sih santai saja. Setelah melewati tol, sang kondektur meminta ongkos dong, gw dengan santainya bilang "Jati Bening bang", sambil ngasih uang ke abangnya. Dan kondektur itu dengan paniknya bilang "Yah, neng ini bus ke Jati Asih, gak lewat Jati Bening". Apa?, kalo di sinetron biasanya pake di zoom in, biar keliatan lebih dramatis. "Memang eneng mau kemana?", tanya sang kondektur. "Saya mau ke Kebon Jeruk", jawab gw lemasa tak berdaya. ok ini lebay lagi. "Tapi neng tenang aja, nanti turunnya di kampung Rambutan saja, dari situ neng ada bus jurusan ke Kebon Jeruk kok", sang kondektur memberikan gw alternatif biar gw gak panik mungkin. Akhirnya tiba jualah gw di terminal Kampung Rambutan, dan gak susah gw langsung menemukan bus yang menuju Kebon Jeruk. Gw pun langsung info ke bokap gw, kalo gw salah jurusan dan nyasar sampe terminal Kampung Rambutan. Gw memang biasa menceritakan hal-hal yang terjadi sama bokap gw. Dan bokap pun langsung menenangkan gw, yang dia tahu gw pasti panikan banget.

Dari cerita ini gw pun dapat mengambil hikmahnya, walaupun gw tetep telat sampe kampus. Bahwa akhirnya gw tahu terminal penampakan dari terminal Kampung Rambutan kaya apa. heheheh. Ini baru salah satunya, dan masih banyak yang belum gw ceritakan, so sabar menunggu cerita selanjutnya yaa, gw mau beli cemilan dulu yaa.....


Minggu, 27 Oktober 2013

Adab sosial

Ini cerita gw ketika perjalanan pulang kerja,..

Seperti biasa gw akan naik kendaraan umum. Ketika bus yang gw kendarai melintas di depan sebuah rumah sakit, naiklah sepasang suami istri yang sudah tua. Mereka naik dari pintu depan, dan gw duduk di bangku belakang. Gw mengamati keduanya, yang mencoba mencari tempat duduk kosong, tampaknya sang suami sedang sakit. Ketika mereka sudah sampai ke arahku ternyata tak seorang pun yang merelakan tempat duduknya. Sungguh gw miris banget melihat kejadiaan itu. 

Gw pun memberikan tempat yang gw duduki untuk bapak itu. Setelah gw berdiri, gw dapat melihat orang-orang yang ada di bus itu. Yaampun ternyata tempat duduk di belakangku yang duduk kebanyakan para pria, apa yang mereka pikirkan, fiuhh. Jujur yaa, gw tuh sedih banget. Apa mereka gak pernah belajar di sekolah, tentang adab sosial. Untuk mendahulukan wanita hamil atau orang tua renta, jika jaman sekarang saja sudah seperti ini, bagaimana manusia di masa depan. 

Yang tak habis pikir, kebanyakan dari penumpang tersebut adalah pegawai kantoran, yang menurut gw, mereka cukup pintar lah. Tapi sayang jiwa sosial untuk hal kecil saja mereka gak bisa lakukan. 

Ini cerita gw saat perjalanan ke Bogor,..

Pernah suatu waktu gw jalan ke Bogor bersama teman-teman kampus. Dan kebetulan sebelah gw adalah temen cowo, anak metal eh maksud gw dia ngeband dengan aliran metal, dia itu tampilannya bad boy lah, mungkin dengan penampilannya itu dia lebih nyaman. Ketika perjalanan baru setengah jam berlalu naiklan seorang ibu-ibu. saat itu bus pun telah penuh, dan tak sedikit pula penumpang yang harus berdiri. namun seketika teman gw, yang duduk di samping gw itu berdiri dan memberikan tempat yang didudukinya pada sang ibu. gw hanya tersenyum padanya. saat itu perjalanan tengah malam, namun macetnya pun belum hilang. Alhasil 2 jam teman gw itu rela berdiri, dan barulah duduk setelah sang ibu turun.  Gw cuma bilang ke temen gw itu "Hey man! you're cool".

Dari hal tersebut gw berkesimpulan, gw berusaha untuk tidak akan melihat dan menghakimi seseorang dari penampilannya saja. Karena dengan penampilan rapi, berkemeja pun tak menjanjikan seseorang mempunyai jiwa sosial yang lebih dibandingkan orang berpenampilan lusuh. So teman don't judge the book from the cover ya,..